Tag Archive for ternate

Penyebab Batu Bacan Sangat Terkenal di Dunia

Photobucket

Batu bacan sudah dikenal pada zaman kesultanan Maluku Utara, dengan bukti mahkota-mahkota yang dipakai oleh kesultanan di Maluku Utara terdapat batu permata bacan.

Pada 1960an, saat kedatangan presiden RI pertama, Soekarno, di pulau Bacan (kota Labuha), masyarakat memberikan cindera mata berupa batu bacan kepada Presiden Soekarno.

Kelebihan batu bacan berbeda dengan batu-batu permata lainnya dan warnanya bermacam-macam, yaitu hijau, kuning tua,kuning muda,hijau cincau sampai 3 jenis, merah, putih bening, putih susu, warna teh, keunguan, coklat, warna kembang ada 2 sampai 9 warna, hijau muda seperti warna permen relaxa.

Batu Bacan Panca Warna didominasi Merah

            Contoh jenis batu bacan panca warna dominan merah

Batu Bacan Warna Teh

Contoh bahan batu bacan warna teh foto tanpa disenter

DSC02499

Contoh bahan batu bacan warna teh dengan disenter dari bawah

Dari semua jenis batu bacan ini, cepat atau lambat batu akan proses berubah menjadi lebih indah sehingga batu bacan disebut batu hidup.
Batu bacan proses memiliki beberapa tahap proses perubahan.

DSC02750


Contoh mata cincin batu bacan hijau doko dengan cincin emas, mata batu bacan hijau menyerap bahan emas,

sehingga di dalam batu bacan terdapat bintik-bintik emas

 

Sebagai contoh Batu bacan proses awal warna dasar hitam , seiring dengan waktu mengalami proses perubahan warna yang hitam menjadi hijau, tetapi tidak semua bongkahan sekaligus 100% berubah warna menjadi hijau tapi bertahap; ada yang hitam dan ada yang hijau.

Setelah perubahan warna menjadi hijau mengalami 3 proses tahapan lagi; dari hijau menjadi proses pembersihan dan dari bersih menjadi proses bening. Sesudah bening mengalami proses lagi di dalamnya menjadi seperti air dan lama kelamaan di dalam batu bacan tersebut seluruhnya menjadi seperti air.

Kalau mau proses perubahan warna menjadi cepat, maka bentuklah batu bacan menjadi mata cincin atau mata kalung (bahan sudah diproses menjadi bahan jadi) dan langsung dipakai sebagai kalung dan cincin.

Ada batu bacan juga yang hijau sangat muda (bukan warna hijau cincau dan warna biru) mengalami proses perubahan menjadi putih susu danwarna putih susu berubah menjadi proses akhir bening.

 
DSC02873

 

Bahan batu bacan palamea proses , proses awal berwarna hitam pekat, sekarang berubah menjadi berwarna hijau kebiruan  dengan disenter dari atas

 

 

 

DSC02869

Bahan Batu Bacan palamea tanpa disenter

Proses perubahan warna batu bacan itulah yang membuat orang luar negeri sangat tercengang dan sangat kagum. Sekitar tahun 1994 orang luar negeri sudah mulai tahu keunggulan batu bacan , tetapi sayang orang Indonesia belum tahu kelebihan batu bacan asal negeri sendiri.

Pembeli batu bacan dari luar negeri terbanyak negara-negara etnis tionghoa, arab (dubai), dan sebagian Eropa.
Mulai tahun 2010 sampai sekarang barulah orang Indonesia tahu keunggulan batu bacan.

Jadi maaf, batu bacan tidak bisa disamakan seperti batu lainnya di Indonesia. Kelebihan batu bacan melebihi batu giok dan tingkat kekerasan batu bacan saja 7,5 skala Mohs seperti batu jamrud.

Sehingga bisa dikatakan batu bacan memiliki kelebihan tersendiri dan hal itulah mengapa batu bacan sangat mahal.
Hati-hati juga dengan batu imitasi; ada yang mengatakan batu bacan padahal bukan batu bacan, dan ada batu-batu permata dari luar (bukan pulau kasiruta) mengatakan batu bacan. Ada juga batu bacan mati yang dibentuk jadi mata kalung atau mata cincin dan batu tersebut tidak akan proses lagi.

 

Bahan Bacan Coklat Kekuningan jenis batumulia Jasper

Contoh bahan batu bacan super  berwarna kuning, daging semua

Saya menjual khusus batu bacan asli dari pulau kasiruta (Desa Doko dan Desa Palamea), anda bisa menghubungi saya di :
HP 0852-4054-3725/ pin BB = 2A481C47
email= yuris.gultom@gmail.com
saya sekarang tinggal di cibubur 7 dan ternate, maluku utara.

Saya asli orang Jakarta dan suami saya keturunan tionghoa asal Bacan dan rumah di ternate, maluku utara.

Map of Alfred Russel Wallace’s House in Santiong Village, Ternate City, Indonesia

Photobucket

Ternate island is very small, but very rich in natural resources, ranging from spices, marine wealth through mining and precious gem stones (called by the name of  Bacan Stones).

Age town of  Ternate was 762 years old.

Age that is quite old, and during which the history of  Ternate city is growing very fast. Ternate has long been known internationally as a city of spices and historic city, which is a region targeted by European countries such as Portugal and the Netherlands for the colonized and taken its natural resources.

This is evidenced by the remnants of the colonial such as  fortress of 7 pieces that have been recorded and the legacy of the world’s oldest clove which name is Cengkeh Afo.

In fact, a famous English naturalist, father of Biogeography world, Sir Alfred Russel Wallace had come to Ternate and stayed for 4 years.

Alfred Russel Wallace came in the morning, on January 8, 1858, he carried a letter of introduction himself  to Duivenboden a resident ternate, whose Dutch ancestors.

Duivenboden school in the UK and are very rich. He has a half of city, ships and hundreds of slaves, that he was known as the king of Ternate.

Because of  Duivenboden, Wallace get home, even though the house was damaged in several places but Wallace loved.

The house is close to the city. From the house, not far into the inland and mountain (the Dutch colonial times, inland and mountain as it are Salahuddin village and Skep village are marked by an orchard, according to the testimony of elders, aged about 80 years, in near my house used to be a lot of fruit, the tree rambutan, mango, guava, mangosteen fruit and berry).

My parents’ house in 2008 declared as the home of Alfred Russel Wallace, I have wrote  in  my previous post there was evidence of the existence of the former Wallace is a deep well and the ruins Portuguese fort opposite  of the house.

In the Dutch colonial period, Village Santiong as the boundary between the native Dutch population with natives.

Orange fort to the south until the church chicken (kampung Sarani) occupied by the Dutch population.

South areas at that time, there was no church. Aside from churches chicken (Moluccan Protestant Church), there is a historic church again e.g. the Catholic Church St. Wilibrordus (in Ternate known as the Stone Church).

Starting from the fort orange to the north, inhabited by indigenous natives.

Santiong Village comes from the words ‘ san ‘and ‘tiong’ , san means grave; tiong means tionghoa (china). In the village there is Santiong Chinese cemetery.

The mount (less than 1 km from my house) there are areas of the cemetery Dutch, Chinese, and Muslim.

Dutch cemetery and the China’s tomb, many of that have been destroyed by the people to build houses.

Land owners of the cemetery area was once one owner only, then divide up to the area of  cemetery (to be charitable).

denah rumah wallace,santiong ke 3

Map of Wallace’s House

A caption = cemetery china; B = fort orange; C = Domestic Wallace

D = Portuguese fort; E = Bridge Residence; F = Cemetery Dutch

In colonial times, Fort Orange is the biggest fort in Ternate.

Second, the new fort in front of my house. Possible causes of the destruction of the main building the fort in front of my house is a fortress on the bomb that hit Japan’s colonial occupation.

In front of the fort orange along 100-200 meters ahead is the sea, below the castle is exactly the Dutch General Hospital and in the area around it is no longer residential.

Opposite the front of my parents’ house, the block was once the Portuguese fort (fort about 100 feet long).

Based on the book The Malay Archipelago, Wallace home near the fort built by the Portuguese and below the castle are open to the coastal plains (note: at the present time; open to the coastal plains are shops and houses of arabic and chinese).

denah rumah a wallace

Map of Wallace’s House in near side

Description: A = Houses Wallace; B = Portuguese fort; C = Fort Orange

According of The Malay Archipelago:

A bit far from the fort is a native town which stretches approximately one mile to the northeast (now northeast of the area santiong some distance along the 1 mile is roughly orange next to the castle, the village and sub-village makassar Salero which is native town).

In Ternate, another historical place in the Portuguese and Dutch is  residence gate   as the ship to the port of exit and entry of Ternate and as a place of trade  of entry and exit of goods, especially spices.

Jembatan Residence, Tahun 2007

Photo Bridge of  Residence, 2007

Quotations book of  The Malay Archipelago: In the first visit in Ternate, I also went to the island Gilolo accompanied by 2 children and a young Chinese . Chinese young is brother of Wallace’s home owners who also lent us the boat and its crew.

Based on the book, Wallace homeowners are Chinese, matched with the house that I live, once is Chinese too.

The Chinese also have a lot of land around the village Santiong.

In the 1960s to the 1970s, in the village Santiong, people who have a concrete house only 1-2 people including the house that I live, most houses are made of sago stem and thatch roofs.

Most old houses around the neighborhood is the home of my parents.

 

Denah Rumah Alfred Russel Wallace di Kelurahan Santiong, Ternate

Photobucket

Ternate merupakan kepulauan yang sangat kecil, tetapi sangat kaya dengan sumber daya alam, mulai dari rempah-rempah, kekayaan laut sampai pertambangan dan batu mulia permata (di sebut dengan nama batu bacan).

Usia kota Ternate sudah 762 tahun.

Usia yang sudah cukup tua, dan selama itu pula sejarah kota Ternate berkembang sangat cepat. Ternate sudah lama dikenal di dunia internasional sebagai kota rempah-rempah dan kota bersejarah, yaitu menjadi daerah yang diincar oleh negara-negara Eropa seperti Portugis dan Belanda untuk dijajah dan diambil kekayaan alamnya.

Ini terbukti dengan adanya sisa-sisa peninggalan jaman penjajahan berupa 7 buah benteng yang sudah terdata dan adanya peninggalan cengkeh tertua di dunia yaitu cengkeh Afo.

Bahkan, seorang naturalis terkenal dari Inggris, bapak Biogeografi dunia, Sir Alfred Russel Wallace pernah datang ke Ternate  dan tinggal selama 4 tahun.

Alfred Russel Wallace datang pada pagi hari, tanggal 8 Januari 1858, ia membawa surat perkenalan diri kepada Duivenboden seorang penduduk ternate, yang leluhurnya Belanda.

Duivenboden bersekolah di Inggris dan sangat kaya. Ia memiliki 1/2 kota, kapal-kapal dan ratusan budak, sehingga ia dikenal sebagai raja di Ternate.

Berkat bantuan Duivenboden, Wallace mendapatkan rumah, meskipun rumah itu rusak di beberapa tempat tetapi Wallace sangat menyukainya.

Letak rumah itu dekat dengan kota. Dari rumah itu, tidak jauh menuju ke pedalaman dan gunung (pada zaman penjajahan Belanda, pedalaman dan gunung saat itu adalah Kelurahan Salahuddin dan kelurahan Skep yang ditandai dengan kebun buah-buahan, menurut kesaksian orang tua-tua, yang berumur sekitar 80 tahun, di dekat rumah saya dulunya banyak buah-buahan, yaitu pohon rambutan, mangga, jambu, manggis dan buah berry).

Rumah orang tua saya pada tahun 2008 dinyatakan sebagai rumah Alfred Russel Wallace karena seperti posting saya sebelumnya ada bukti keberadaan Wallace yaitu bekas sumur yang dalam dan bekas reruntuhan benteng portugis di sebrang rumah .

Pada masa penjajahan Belanda, Kelurahan Santiong  sebagai batas antara penduduk Belanda dengan penduduk asli pribumi. 

Benteng oranye ke arah selatan sampai gereja ayam (kampung sarani) ditinggali oleh penduduk Belanda. 

Daerah selatan pada saat itu, tidak ada gereja. Selain gereja ayam (Gereja Protestan Maluku), ada satu gereja bersejarah lagi yaitu Gereja Katolik St. Wilibrordus (di Ternate dikenal  dengan nama Gereja Batu).

Mulai dari benteng oranye ke arah utara, ditinggali oleh penduduk asli pribumi.

Kelurahan Santiong berasal dari kata san dan tiong, san berarti kuburan; tiong berarti tionghoa (cina). Di kampung Santiong memang terdapat pekuburan Cina.

Ke arah gunung (kurang dari 1 km dari rumah saya) terdapat areal pekuburan Belanda, Cina, dan Muslim.

Kuburan Belanda dan Kubur Cina banyak yang sudah dihancurkan oleh masyarakat untuk membangun rumah.

Tanah pemilik areal pekuburan tersebut dulunya satu pemilik saja, kemudian di bagi-bagi untuk areal pekuburan (menjadi wakaf).

denah rumah wallace,santiong ke 3

                                                           Foto Denah Rumah Wallace

              keterangan   A= Pekuburan cina;              B= benteng oranye;    C= Rumah Wallace

                                            D= Benteng Portugis;  E=Jembatan Residence;    F= Pekuburan Belanda

 

Pada zaman penjajahan, Benteng Oranye adalah benteng terbesar di Ternate.

Kedua, baru benteng di depan rumah saya. Kemungkinan penyebab hancurnya bangunan utama benteng di depan rumah saya adalah bom yang menimpa benteng pada zaman penjajahan penjajahan Jepang.

Di depan benteng oranye sepanjang 100-200 meter ke depan adalah  laut, di bawah benteng tersebut persis Rumah Sakit Umum jaman Belanda dan di daerah sekitar itu sudah tidak ada lagi pemukiman.

Di sebrang depan rumah orang tua saya, sepanjang blok tersebut dulunya adalah benteng portugis (panjang benteng sekitar 100 meter).

Berdasarkan buku The Malay Archipelago, rumah Wallace dekat dengan benteng yang dibangun oleh orang Portugis dan di bawah benteng terdapat dataran terbuka sampai ke pantai (catatan : pada masa sekarang ini dataran terbuka adalah areal pertokoan kampung cina dan kampung arab).

denah rumah a wallace

                                                Denah Rumah Alfred Russel Wallace jarak Dekat

                                    Keterangan : A= Rumah Wallace; B= Benteng Portugis; C= Benteng Oranye

 

Kutipan buku The Malay Archipelago :

Agak jauh dari benteng itu adalah kota penduduk asli yang terentang kira-kira 1 mil ke timur laut ( sekarang ini timur laut dari areal santiong agak jauh sepanjang 1 mil adalah kira-kira di sebelah benteng oranye, yaitu kelurahan kampung makassar dan kelurahan salero yang merupakan kota penduduk asli).

Di Ternate, tempat bersejarah lainnya pada jaman Portugis dan Belanda adalah jembatan residence  sebagai pelabuhan keluar masuknya kapal ke Ternate dan sebagai tempat perdagangan yaitu sebagai tempat keluar masuknya barang-barang terutama rempah-rempah dari dan keluar Ternate.

Jembatan Residence, Tahun 2007

                                                                          Foto Jembatan Residence, Tahun 2007

                Kutipan buku The Malay Archipelago :Dalam kunjungan pertama di Ternate, saya juga pergi ke pulau Gilolo ditemani 2 anak Duivenboden dan seorang pemuda Cina. Pemuda Cina itu adalah saudara pemilik rumah saya yang juga meminjamkan perahu dan awaknya kepada kami.

Berdasarkan buku itu, pemilik rumah Wallace adalah orang Cina, cocok dengan rumah yang saya tinggal, dulunya adalah orang Cina juga.

Orang Cina itu juga memiliki banyak tanah di sekitar kelurahan Santiong.

Pada tahun 1960an sampai 1970an, di kelurahan Santiong, orang yang memiliki rumah beton hanya 1-2 orang saja termasuk rumah yang saya tinggal, terbanyak rumah terbuat dari pelepah sagu dan atap rumbia. 

Rumah paling lama di sekitar lingkungan sini adalah rumah orang tua saya.

 

 

Location of Alfred Russel Wallace’s House By The Malay Archipelago

Photobucket

The debate lies the home of Alfred Russel Wallace in Ternate actual legendary and became the center of international attention.

The first time, the Alfred Russel Wallace’s house believed in Kampung Makassar, Ternate but many people doubted.

Then, in 2008 with the ongoing international conference in order to 150 years Letter From Ternate, the home of  Rusel Alfred Wallace who is actually standing on land owned Paunga Tjandra, at the village Santiong, Ternate.

By reading the book The Malay Archipelago in chapter 21 on Molluca, Ternate, said that from his house in Ternate, he could reach the market within five minutes and there was a deep well.

The depth of the well in the back of my house approximately over 20 meters, and is the oldest wells in the vicinity. Many testimonies of elders aged 90 in Ternate that the well had been there from the Dutch colonial.

Well water is very clear and clean, lots of people are taking water from the well to drink without boiling it first because  so fresh and clean. I also had time to enjoy the freshness of the water wells.

Every day, early in the morning and evening, the well visited by many people around even from a remote village (Kalumpang, Kampung Makassar, Skep and surrounding areas).

foto sumur wallace

photo of wallace wells in 1981

Evidence indicates that the soil in my parents’ house was once the home stand Wallace is there is  a fortress built by the Portuguese, there were ruins of the Portuguese fort near my house.

Below the castle are open to the coastal plains. A bit far from the fort is a native town which stretches approximately one mile toward the northeast. In the city, there is the sultan’s palace.

But now a ruin stone unkempt.

Just across the front of my parents’ house, stands the former fortress built by the Portuguese.

This fort is less well known is because since the 1970s was torn down by people around the castle to build a house.

Ternate island is very small but has many forts, which recorded seven pieces of the fort but actually many more.

Below is a picture of the former Portuguese fortress ruins of a stone wall.

Gambar tembok batu reruntuhan benteng portugis

DSC03122

Picture of a stone wall ruins Portuguese fortress
DSC03122
Wall ruins of the Portuguese fort in front of the wallace’s house

 DSC03123
The remains of the ruins of the former Portuguese fort

DSC03124

Boundary wall is used to gate the Portuguese fort

DSC03129
From the stone wall was once the gate

DSC03130
The former Portuguese fortress bathroom

 

 DSC03137

foto bbc 3
Behind the cameraman of BBC Channel was once a Portuguese fort mentioned Alfred Russel Wallace in his book The Malay Archipelago, and there are still ruins of the fort are still standing.

foto bbc 1
Just across the road in front of the English comedian actor Bill Bailey is a former Portuguese fort mentioned in his book Alfred Russel Wallace.

 

DSC03140

 
foto gapura ke 2
The lines  broken indicated Portuguese fort gate once stood.
In 1960s there are doors along the walls of the castle gates and a complete stand still, but in the 1970s  the building of fort and fort gate torn down to build the houses of people.

DSC03143
The photo above is the house where the land is the former residence of Alfred Russel Wallace in Ternate.

Behind the house there are wells mentioned in the book Alfred Russel Wallace’s The Malay Archipelago

 

Alfred Russel Wallace houses made of sago and sago palm roof midrib not stand in the tens to hundreds of years, the original home must have been destroyed.

My parent’s house is already home to three of the original Alfred Russel Wallace’s house and built around the end of 1988. The second house, the material of wood, the ceiling is from the stem of sago and administration office (rooms) and a staircase similar to Alfred Russel Wallace’s house map.

My parents’ house, not only visited by tourists from abroad since 2008 till now, but since the 1960s has always visited by tourists from various countries. First, they mostly came to see the well behind the house so we are not surprised anymore.

Tourists who come to take photos at my parents’ house must be well equipped with the photo and photo bathroom houses a diagram similar to the second house Alfred Russel Wallace.

In the next post, I will explain the plans of second  Alfred Russel Wallace’s house and original wallace’s house plan so you can judge for yourself.

    
 

Letak Rumah Alfred Russel Wallace Berdasarkan The Malay Archipelago

Photobucket

Perdebatan letak rumah Alfred Russel Wallace di Ternate yang sebenarnya telah melegenda dan menjadi pusat perhatian internasional.

Pertama kali, rumah Alfred Russel Wallace diduga di Kampung Makassar, Ternate tetapi banyak kalangan meragukan.

Kemudian, tahun 2008 dengan berlangsungnya konferensi internasional dalam rangka 150 tahun Letter From Ternate, rumah Alfred Rusel Wallace yang sebenarnya adalah berdiri di  atas tanah milik Paunga Tjandra, bertempat di kelurahan Santiong, Ternate.

Dengan membaca buku The Malay Archipelago pada bab 21 tentang Molluca, Ternate, disebutkan bahwa dari rumahnya di Ternate, ia bisa menjangkau pasar dalam jangka waktu lima menit dan di situ ada sebuah sumur yang dalam.

Kedalaman sumur di belakang rumah saya  kira-kira lebih dari 20 meter,dan merupakan sumur tertua di lingkungan sekitar situ. Banyak kesaksian dari tua-tua di Ternate yang berumur 90 tahunan bahwa sumur itu sudah ada dari jaman penjajahan Belanda.

Air sumur sangat jernih dan bersih, banyak orang yang mengambil air dari sumur untuk minum tanpa dimasak terlebih dahulu saking segarnya  dan  mencuci. Saya juga sempat menikmati kesegaran air sumur tersebut.

Setiap hari, di waktu subuh dan sore hari, sumur banyak dikunjungi oleh penduduk sekitar bahkan dari kampong yang berjauhan (Kalumpang, Kampung Makassar, Skep dan sekitarnya).

foto sumur wallace

Bukti yang menunjukkan bahwa tanah di rumah orang tua saya adalah dulunya berdiri rumah Wallace  adalah  sebuah benteng yang dibangun oleh orang Portugis, ternyata ada reruntuhan benteng portugis di dekat rumah saya.

Di bawah benteng terdapat dataran terbuka sampai ke pantai. Agak jauh dari benteng itu adalah kota penduduk asli yang terentang kira-kira 1 mil kea rah timur laut. Di tengah kota, adalah terdapat istana sultan.

Tetapi sekarang tinggal reruntuhan batu yang tak terawat.

Tepat di seberang depan  rumah orang tua saya, berdiri bekas benteng yang dibangun orang portugis.

Benteng ini memang ini kurang dikenal karena sejak tahun 1970an sudah diruntuhkan oleh masyarakat sekitar benteng untuk membangun rumah.

Ternate adalah pulau sangat kecil tetapi banyak memiliki benteng, yang terdata 7 buah benteng tetapi sebenarnya masih ada lagi.selain 7 benteng tersebut.

Di bawah ini adalah gambar bekas tembok batu reruntuhan benteng portugis.

Gambar tembok batu reruntuhan benteng portugis

DSC03122

                                  Tembok  reruntuhan benteng portugis di depan rumah wallace


DSC03123                                                                    Sisa-sisa reruntuhan bekas benteng portugis

DSC03124

                                             Batas Tembok inilah dulunya gapura benteng portugis

DSC03129

                                                                Dari Tembok batu ini dulunya gapura

DSC03130

                                                                      Bekas kamar mandi benteng portugis

 

 

 

DSC03137

foto bbc 3

 

Di belakang kameraman BBC Channel dulunya adalah benteng portugis yang disebutkan Alfred Russel Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago, dan masih ada reruntuhan benteng yang masih berdiri.

foto bbc 1

Persis di depan seberang jalan actor comedian Inggris Bill Baley adalah dulunya benteng portugis yang disebutkan Alfred Russel Wallace di bukunya.

DSC03140

 

 

foto gapura ke 2

                            Garis-garis putus menandakan dulunya gapura benteng portugis berdiri.

Tahun 1960an gapura, ada pintu beserta gerbangnya dan tembok benteng masih lengkap berdiri, tahun 1970an bangunan dan gapura benteng diruntuhkan untuk membangun rumah penduduk.

DSC03143

Foto di atas adalah rumah yang tanahnya merupakan bekas kediaman Alfred Russel Wallace di Ternate. Di belakang rumah ini terdapat sumur yang disebutkan Alfred Russel Wallace dalam buku The Malay Archipelago

 

Rumah Alfred Russel Wallace terbuat dari pelepah sagu dan atap rumbia tidak tahan dalam waktu puluhan hingga ratusan tahun, rumah asli pastilah sudah hancur.

Rumah saya ini  sudah rumah ke tiga dari rumah asli Alfred Russel Wallace dan dibangun sekitar akhir 1988 . Rumah kedua, bahan dari kayu, plafonnya masih dari pelepah sagu dan tata ruangannya (kamar-kamar) dan tangga mirip dengan denah rumah Alfred Russel Wallace.  

Rumah orang tua saya, bukan hanya dikunjungi turis dari luar negeri sejak tahun 2008 sampai sekarang saja, tetapi sejak tahun 1960an selalu dikunjungi oleh turis dari berbagai Negara. Dulu, mereka kebanyakan datang untuk melihat sumur di belakang rumah sehingga kami sudah tidak kaget lagi.

Turis-turis yang datang mengambil foto di rumah orang tua saya pastilah ada foto sumur lengkap dengan kamar mandi dan foto bangunan rumah kedua yang denahnya mirip dengan rumah Alfred Russel Wallace.

Pada posting berikutnya, saya akan menjelaskan denah rumah kedua Alfred Russel Wallace dan denah rumah asli Wallace sehingga anda bisa menilainya sendiri.

The Research House Alfred Russel Wallace in Santiong, Ternate

Photobucket

In 2008 the city of  Ternate was uproar by great scientists of the world  ,

The world Biogeography father, the naturalist Sir Alfred Russel Wallace.

Starting from the International Conference Letter From commemorating 150 years Ternate Letter From Ternate,

which was attended by U.S. Ambassador Cameron, Prof. Dr. Emil Salim, and other international scientists.

Stunned the world when there is an awareness of the history of science have opened the inventor of the theory of evolution actually is Alfred Russel Wallace and Charles Darwin is not.

The theory of evolution stems from research conducted in Ternate, Indonesia by Alfred Russel Wallace British scientists by writing On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From the Original Type or Letter from Ternate in 1858.

gambar wallace

The picture of Sir Alfred Russel Wallace

After the international conference that, it was discovered that Sir Wallace homes in villages Santiong, Ternate.

Alfred Russel Wallace was the main character who publishes Ternate and Halmahera in research biogeographic evolution.

Alfred Russel Wallace arrived in Ternate, on January 8, 1858 at the age of 35 years.

He lived in the house recommended by Dutch businessman, Duivenboden.

The house is adjacent to the old Portuguese fort Santiong.
For the past 4 years in Ternate, he stated that the house was very comfortable in Ternate (In this house I spent many happy days).

Sir Wallace said in the house: the water supply me awake thanks to a deep well.

Especially in this climate, clean water is a luxury.

From the house, the market can only be reached within a 5 minute walk.

Similarly, if you’re going to the beach.

Wallace also said that in this house I have a spacious and convenient to remove, sort and organize all the ‘treasure’.

He can also walk around enjoying the suburbs, or the mountainside when they want a little exercise or looking for a new collection (from the Malay Archipelago).
Homeowners former residence of Alfred Russel Wallace, Paunga Tjandra,

in 2008 suggested so far he does not know anything about that first house was once the residence of the naturalist world.

gambar rumah wallace

The picture of homeowner residence of Alfred Russel Wallace, Paunga Tjandra

He just knew, after the mayor at that time to his home and told them.

Around the year 1970 the house was often visited by tourists from America, England, Australia, Holland, Canada and Japan who want to see the well behind the house. The foreign tourists wandering around the house for 30 minutes, looking at the well and around the house, take photos and take samples from water wells.

At that time, the well Wallace still there along with the shower and bath water.

Malifut seismic event in 1992,

cause the building fell into the wells approximately 1.5 meters

and dangerous for those around the well so that the well covered with soil, then put an iron pipe in the middle.

foto sumur wallace

Photo of  wallace wells

Homeowners planning to install the pump, but not so fitted.

Around the year 1960 the castle walls still standing near the residence of Wallace in Ternate called Wallace in his book,

there is a complete door gate with a width of about 4 m,

but in the 1970s the castle walls torn down residents to build houses.

What remains now only the debris.

Houses Alfred Russel Wallace in Ternate where he carried out research study for 4 years, is owned by my parents and now I live in the house.

Since he knew my parents house in Ternate was occupied house the world researcher Alfred Russel Wallace for 4 years led to the tourists from within the country and abroad come to the house to see the remains of Wallace.

Many people with different backgrounds have come to our house.

They are LIPI scientists, medical specialists from Jakarta, architects,

Prof. Dr. Emil Salim, Ambassador of the United States, Ambassador of Australia, and a retired researcher from the Netherlands, UK, USA,

British Ambassador, Ambassador of Singapore, the tourists Sail Morotai 2012,

journalists and reporters from TV stations Dutch documentary covering home Ternate, reporters and journalists Metro TV, TV One, Reuters journalists, TV reporters and journalists from the British BBC TV stations are also not left behind a documentary on Alfred Russel Wallace trail guided by the famous British  comedian actor, Bill Bailey , and many more that I can not mention.

Persiapan Shooting Film Dokumenter oleh BBC Channel

Photo of Preparation Shooting Documentary by BBC Channel

Source : Verjon Tjandra

 

Rumah Penelitian Alfred Russel Wallace di Santiong, Ternate

Photobucket

Pada tahun 2008, kota Ternate digemparkan oleh ilmuwan besar yang mendunia,

bapak Biogeografi Dunia, sang Naturalis Sir Alfred Russel Wallace.

gambar wallace

Berawal dari Konferensi Internasional Letter From Ternate yang memperingati 150 tahun Letter From Ternate,

yang dihadiri oleh Duta Besar AS Cameron, Prof. Dr. Emil Salim, dan para ilmuwan internasional lainnya.

Dunia terpaku ketika ada sebuah kesadaran sejarah ilmu pengetahuan yang harus dibuka bahwa penemu teori evolusi sebenarnya adalah Alfred Russel Wallace 1858 dan bukan Robert Charles Darwin (1859).

Teori evolusi bermula dari penelitian yang dilakukan di Ternate, Indonesia oleh Alfred Russel Wallace ilmuwan Inggris berdasarkan tulisannya On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From the Original Type atau Letter from Ternate pada tahun 1858.

Setelah konferensi internasional itulah, baru diketahui bahwa rumah tempat tinggal Sir Wallace berada di kelurahan Santiong, Ternate.

Alfred Russel Wallace adalah tokoh utama yang mempublikasikan Ternate dan Halmahera dalam penelitian biogeografi evolusinya.

Alfred Russel Wallace tiba di Ternate, pada tanggal 8 Januari 1858 dalam usia 35 tahun.

Dia tinggal di rumah yang direkomendasikan oleh pengusaha Belanda, Duivenboden.

Rumah itu berdekatan dengan benteng tua Portugis di Santiong.
Selama 4 tahun di Ternate, ia menyatakan bahwa rumah di Ternate sangat nyaman ( In this house I spent many happy days).

Sir Wallace mengatakan di rumah tersebut : persediaan air bersih saya terjaga berkat sebuah sumur yang dalam.

Apalagi dalam iklim seperti ini, air bersih merupakan kemewahan.

Dari rumah itu, pasar dapat dijangkau hanya dalam 5 menit berjalan kaki.

Begitu pula kalau hendak ke pantai.

Wallace juga menyatakan, bahwa di rumah ini saya memiliki ruangan yang luas dan nyaman untuk mengeluarkan, memilah-milah dan menyusun semua ‘harta karun’.

Dia juga dapat berjalan-jalan menikmati pinggiran kota,atau menuju lereng gunung ketika ingin sedikit berolahraga atau mencari koleksi baru (dari buku Kepulauan Nusantara).
Pemilik rumah bekas tempat tinggal Alfred Russel Wallace, Paunga Tjandra, 

pada tahun 2008 menyatakan selama ini ia tidak tahu menahu kalau dulu rumahnya pernah menjadi tempat tinggal sang naturalis dunia.

gambar rumah wallace

 

Dia baru mengetahui, setelah walikota pada masa itu berkunjung ke rumahnya dan memberitahukan hal tersebut.

Sekitar tahun 1970an rumah tersebut sering dikunjungi oleh turis-turis dari Amerika, Inggris, Australia, Belanda, Kanada dan Jepang yang ingin melihat sumur di belakang rumah. Para turis manca negara berkeliling di sekitar rumah selama 30 menit, melihat sumur dan sekitar rumah, mengambil foto dan mengambil sampel dari air sumur.

Pada masa itu, sumur Wallace masih ada beserta dengan kamar mandi dan bak airnya.

Peristiwa gempa di Malifut tahun 1992,

menyebabkan bangunan sumur anjlok ke dalam sekitar 1,5 meter

dan membahayakan bagi orang di sekitar sumur sehingga sumur ditutup dengan tanah, kemudian di pasang pipa besi di tengahnya.

foto sumur wallace

Pemilik rumah berencana memasang pompa namun tidak jadi dipasang.

Sekitar tahun 1960an masih berdiri tembok benteng dekat rumah kediaman Wallace di  Ternate  yang disebut Wallace di dalam bukunya,

ada pintu lengkap gerbangnya dengan lebar sekitar 4 m,

namun tahun 1970an tembok benteng diruntuhkan warga untuk membangun rumah.

Yang tinggal sekarang hanya puing-puing saja.

Rumah Alfred Russel Wallace di Ternate dimana ia melakukan riset penelitian selama 4 tahun, adalah milik orang tua saya dan sekarang ini saya tinggal di rumah tersebut.

Semenjak diketahuinya rumah orang tua saya di Ternate adalah rumah yang ditinggali  sang peneliti dunia Alfred Russel Wallace  selama 4 tahun   menyebabkan para turis dari dalam negeri maupun luar negeri berdatangan ke rumah untuk melihat sisa peninggalan Wallace.

Banyak kalangan dengan latar belakang berbeda pernah datang ke rumah kami.

Mereka adalah ilmuwan LIPI, para dokter spesialis dari Jakarta, arsitek,

Prof. Dr. Emil Salim, Duta Besar Amerika Serikat, Duta Besar Australia,peneliti dan pensiunan dari Belanda, Inggris, Amerika Serikat,

Duta Besar Inggris, Duta Besar Singapura, para wisatawan Sail Morotai 2012, 

jurnalis dan reporter dari stasiun TV Belanda yang meliput film dokumenter di rumah Ternate, para reporter dan jurnalis Metro TV, TV One, jurnalis Kompas,  para reporter TV dan jurnalis stasiun TV BBC dari Inggris juga tidak ketinggalan membuat film dokumenter tentang Jejak Alfred Russel Wallace yang dipandu oleh aktor sekaligus presenter terkenal Inggris, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan.

 

Persiapan Shooting Film Dokumenter oleh BBC Channel

 

Sumber  : Verjon Tjandra