Butuh Bantuan? Customer Service BATU-BACAN.COM siap melayani dan membantu Anda dengan sepenuh hati.
Beranda » Uncategorized » maluku utara » Denah Rumah Alfred Russel Wallace di Kelurahan Santiong, Ternate

Denah Rumah Alfred Russel Wallace di Kelurahan Santiong, Ternate

  • Ditambahkan pada: 27 December 2012
  • *Harga Hubungi CS
  • Stock:
  • SKU:
  • Dilihat: 68 kali
  • Kategori:
  • « Arahkan kursor pada gambar untuk Zoom
  • « Klik gambar untuk Full Size
Produk Terkait Denah Rumah Alfred Russel Wallace di Kelurahan Santiong, Ternate
Mencari Bongkahan Batu Bacan Mencari Bongkahan Batu Bacan
  • Stock: Tersedia
  • SKU:
  • *Harga Hubungi CS
  • Pemesanan via SMS
    Anda dapat melakukan pemesanan melalui SMS dengan format sebagai berikut:
    Nama | Alamat Lengkap | Produk Yang Dipesan | Jumlah Pesan kirim ke 081218807287

    Deskripsi Produk Denah Rumah Alfred Russel Wallace di Kelurahan Santiong, Ternate

    Photobucket

    Ternate merupakan kepulauan yang sangat kecil, tetapi sangat kaya dengan sumber daya alam, mulai dari rempah-rempah, kekayaan laut sampai pertambangan dan batu mulia permata (di sebut dengan nama batu bacan).

    Usia kota Ternate sudah 762 tahun.

    Usia yang sudah cukup tua, dan selama itu pula sejarah kota Ternate berkembang sangat cepat. Ternate sudah lama dikenal di dunia internasional sebagai kota rempah-rempah dan kota bersejarah, yaitu menjadi daerah yang diincar oleh negara-negara Eropa seperti Portugis dan Belanda untuk dijajah dan diambil kekayaan alamnya.

    Ini terbukti dengan adanya sisa-sisa peninggalan jaman penjajahan berupa 7 buah benteng yang sudah terdata dan adanya peninggalan cengkeh tertua di dunia yaitu cengkeh Afo.

    Bahkan, seorang naturalis terkenal dari Inggris, bapak Biogeografi dunia, Sir Alfred Russel Wallace pernah datang ke Ternate  dan tinggal selama 4 tahun.

    Alfred Russel Wallace datang pada pagi hari, tanggal 8 Januari 1858, ia membawa surat perkenalan diri kepada Duivenboden seorang penduduk ternate, yang leluhurnya Belanda.

    Duivenboden bersekolah di Inggris dan sangat kaya. Ia memiliki 1/2 kota, kapal-kapal dan ratusan budak, sehingga ia dikenal sebagai raja di Ternate.

    Berkat bantuan Duivenboden, Wallace mendapatkan rumah, meskipun rumah itu rusak di beberapa tempat tetapi Wallace sangat menyukainya.

    Letak rumah itu dekat dengan kota. Dari rumah itu, tidak jauh menuju ke pedalaman dan gunung (pada zaman penjajahan Belanda, pedalaman dan gunung saat itu adalah Kelurahan Salahuddin dan kelurahan Skep yang ditandai dengan kebun buah-buahan, menurut kesaksian orang tua-tua, yang berumur sekitar 80 tahun, di dekat rumah saya dulunya banyak buah-buahan, yaitu pohon rambutan, mangga, jambu, manggis dan buah berry).

    Rumah orang tua saya pada tahun 2008 dinyatakan sebagai rumah Alfred Russel Wallace karena seperti posting saya sebelumnya ada bukti keberadaan Wallace yaitu bekas sumur yang dalam dan bekas reruntuhan benteng portugis di sebrang rumah .

    Pada masa penjajahan Belanda, Kelurahan Santiong  sebagai batas antara penduduk Belanda dengan penduduk asli pribumi. 

    Benteng oranye ke arah selatan sampai gereja ayam (kampung sarani) ditinggali oleh penduduk Belanda. 

    Daerah selatan pada saat itu, tidak ada gereja. Selain gereja ayam (Gereja Protestan Maluku), ada satu gereja bersejarah lagi yaitu Gereja Katolik St. Wilibrordus (di Ternate dikenal  dengan nama Gereja Batu).

    Mulai dari benteng oranye ke arah utara, ditinggali oleh penduduk asli pribumi.

    Kelurahan Santiong berasal dari kata san dan tiong, san berarti kuburan; tiong berarti tionghoa (cina). Di kampung Santiong memang terdapat pekuburan Cina.

    Ke arah gunung (kurang dari 1 km dari rumah saya) terdapat areal pekuburan Belanda, Cina, dan Muslim.

    Kuburan Belanda dan Kubur Cina banyak yang sudah dihancurkan oleh masyarakat untuk membangun rumah.

    Tanah pemilik areal pekuburan tersebut dulunya satu pemilik saja, kemudian di bagi-bagi untuk areal pekuburan (menjadi wakaf).

    denah rumah wallace,santiong ke 3

                                                               Foto Denah Rumah Wallace

                  keterangan   A= Pekuburan cina;              B= benteng oranye;    C= Rumah Wallace

                                                D= Benteng Portugis;  E=Jembatan Residence;    F= Pekuburan Belanda

     

    Pada zaman penjajahan, Benteng Oranye adalah benteng terbesar di Ternate.

    Kedua, baru benteng di depan rumah saya. Kemungkinan penyebab hancurnya bangunan utama benteng di depan rumah saya adalah bom yang menimpa benteng pada zaman penjajahan penjajahan Jepang.

    Di depan benteng oranye sepanjang 100-200 meter ke depan adalah  laut, di bawah benteng tersebut persis Rumah Sakit Umum jaman Belanda dan di daerah sekitar itu sudah tidak ada lagi pemukiman.

    Di sebrang depan rumah orang tua saya, sepanjang blok tersebut dulunya adalah benteng portugis (panjang benteng sekitar 100 meter).

    Berdasarkan buku The Malay Archipelago, rumah Wallace dekat dengan benteng yang dibangun oleh orang Portugis dan di bawah benteng terdapat dataran terbuka sampai ke pantai (catatan : pada masa sekarang ini dataran terbuka adalah areal pertokoan kampung cina dan kampung arab).

    denah rumah a wallace

                                                    Denah Rumah Alfred Russel Wallace jarak Dekat

                                        Keterangan : A= Rumah Wallace; B= Benteng Portugis; C= Benteng Oranye

     

    Kutipan buku The Malay Archipelago :

    Agak jauh dari benteng itu adalah kota penduduk asli yang terentang kira-kira 1 mil ke timur laut ( sekarang ini timur laut dari areal santiong agak jauh sepanjang 1 mil adalah kira-kira di sebelah benteng oranye, yaitu kelurahan kampung makassar dan kelurahan salero yang merupakan kota penduduk asli).

    Di Ternate, tempat bersejarah lainnya pada jaman Portugis dan Belanda adalah jembatan residence  sebagai pelabuhan keluar masuknya kapal ke Ternate dan sebagai tempat perdagangan yaitu sebagai tempat keluar masuknya barang-barang terutama rempah-rempah dari dan keluar Ternate.

    Jembatan Residence, Tahun 2007

                                                                              Foto Jembatan Residence, Tahun 2007

                    Kutipan buku The Malay Archipelago :Dalam kunjungan pertama di Ternate, saya juga pergi ke pulau Gilolo ditemani 2 anak Duivenboden dan seorang pemuda Cina. Pemuda Cina itu adalah saudara pemilik rumah saya yang juga meminjamkan perahu dan awaknya kepada kami.

    Berdasarkan buku itu, pemilik rumah Wallace adalah orang Cina, cocok dengan rumah yang saya tinggal, dulunya adalah orang Cina juga.

    Orang Cina itu juga memiliki banyak tanah di sekitar kelurahan Santiong.

    Pada tahun 1960an sampai 1970an, di kelurahan Santiong, orang yang memiliki rumah beton hanya 1-2 orang saja termasuk rumah yang saya tinggal, terbanyak rumah terbuat dari pelepah sagu dan atap rumbia. 

    Rumah paling lama di sekitar lingkungan sini adalah rumah orang tua saya.

     

     

    Komentar dinonaktifkan: Denah Rumah Alfred Russel Wallace di Kelurahan Santiong, Ternate

    Maaf, form komentar dinonaktifkan untuk produk/artikel ini